Senin, 04 Juni 2012

Fantasi Ngeseks dengan 3 Pria, Pengantin Wanita Lelang Malam Pertama

0 komentar
[imagetag]

Ada sebuah kejadian janggal yang dilakukan oleh pengantin asal Jerman. Bagaimana tidak, pengantin yang baru menikah ini justru melelang malam pertamanya via internet!

Lelang yang dijajakan melalui situs gesext.de ini dilakukan oleh sang pengantin wanita dengan akun Nicoleblow37. Namun menurut penelusuran, nama si perempuan itu adalah Sandra Meyer. Lalu apa alasannya dia melelang malam pertamanya dengan pria lain?

Menurut pengakuan wanita berusia 38 tahun tersebut, bercinta dengan tiga orang sekaligus di malam pernikahan di depan mata suaminya sendiri adalah fantasinya sejak lama. Dia pun semakin senang karena sang suami setuju dengan aksi gilanya tersebut.

Dalam situs tersebut, Sandra memposting gambar yang tidak senonoh, dengan postingan di bawahnya menyebut "Saya ingin orang lain bercinta dengan saya di depan suamiku di malam pernikahan saya".

Sejauh ini penawar tertinggi sudah berani membayar 355 euro. "Nantinya kami akan bertemu di bar dan kemudian beralih ke hotel tempat bulan madu kami. Setelah nyaman, baru dia akan bergabung dengan kami," kata Sandra.

"Kami akan membawa surat nikah dan beberapa sertifikat pendukung untuk membuktikan bahwa itu adalah benar malam pertama kami," tandasnya.

Bagi 'pemenang' memang harus menyiapkan kocek yang tidak sedikit. Sebab selain harus membayar hasil lelang, si pemenang juga diharuskan membayar hotel tempat mereka menginap.

Aksi ini sebetulnya tidak terlalu baru. Sebab beberapa tahun lalu ada seorang mahasiswi yang rela menjual keperawananya di eBay. Dia terpaksa melakukan hal tersebut untuk membiaya kuliahnya.


874465

Memperkirakan Hubungan Candi Ceto, Piramid Gunung Padang dan Candi Suku Maya

0 komentar


[imagetag]
CANDI CETO/IST


Terletak di ketinggian 1.400 mdpl di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Candi Ceto dapat dicapai dengan kendaraan melewati jalanan beraspal yang sangat terjal dan curam hingga kemiringan 45 derajat.

"Disebut Ceto atau kelihatan karena dari atas candi ini kita bisa memandang luas ke segala arah memperhatikan panorama yang indah dan dapat menyaksikan matahari tenggelam disore hari," ujar GRA Koes Triniyah, salah seorang putri Sri Susuhan Pakubuwana XII kepada Rakyat Merdeka Online beberapa waktu yang lalu.


Bentuk Candi Ceto ini memiliki kemiripan dengan bangunan peninggalan suku Maya di Amerika Tengah. Keduanya berbentuk punden berundak dan piramidal atau mengkerucut ke atas. Keduanya juga dibangun di pebukitan atau kawasan yang lebih tinggi dari sekitarnya.


Bentuk Candi Ceto juga tampak mirip dengan rekaan bentuk bangunan yang diperkirakan tertimbun di bawah situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Tim peneliti yang terdiri dari sejumlah ahli lintas disiplin kini sedang mengeskavasi Gunung Padang untuk menjawab pertanyaan apakah benar di bawahnya terdapat sebuah bangunan berusia hingga 10 ribu tahun.



Dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Candi Ceto adalah peninggalan dari jaman Majapahit yakni abad ke 15. Bila melihat dari bentuk gapura yang banyak ditemui di Jawa Timur tampaknya catatan itu benar belaka. Namun bila kita memperhatikan kembali kemiripan Candi Ceto dengan bangunan-bangunan peninggalan Suku Maya, bisa saja kita lantas curiga Candi Ceto berusia jauh lebih tua.

Relief yang ada di diding Candi Ceto berbeda dengan relief di candi-candi peninggalan Majapahit lainnya. Gambar manusia pada relief di Candi Ceto itu, misalnya, tidak tampak sama dengan gambar orang pada relief yang ada di candi-candi lain. Patung di Candi Ceto juga tampak berbeda dengan patung di candi-candi lain dari jaman Majapahit.


Kini kompleks Candi Ceto digunakan umat Hindu sebagai tempat pemujaan dan populer sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut agama asli Jawa atau Kejawen.

Situs megalitikum Gunung Padang pun demikian. Masyarakat setempat pun percaya bahwa Gunung Padang adalah tempat pertapaan di jaman Prabu Siliwangi.

Bila melihat reruntuhan Situs Gunung Padang dengan batu-batu persegi panjang dengan cap senjata tradisional Kujang di salah satu sisinya, bisa jadi Kerajaan Siliwangi membangun ulang tempat ini tepat di atas bangunan yang telah tertutup dengan tanah dan rerumputan.


Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief telah melakukan serangakaian penelitian yang menggunaan teknologi tinggi untuk mendapatkan citra di bawah permukaan tanah. Hasilnya, ditemukan citra benda atau bangunan yang begitu besar di bawah Gunung Padang. Tim ini pun telah menlakukan pengeboran untuk menguji lapisan tanah di bawahnya.



Penelitian awal tim inilah yang kemudian menginisiasi pekerjaan lebih besar yang melibatkan loebih banyak instansi negara untuk mengungkap rahasia Gunung Padang.


Bila permukaan tanah di Gunung Padang diketuk-ketuk dapat dirasakan ada rongga atau ruang di bawah situs megalitikum itu.


"Prabu Siliwangi dipercaya mempunyai kesaktian, maka dia bisa melihat energi di Gunung Padang sangat baik untuk dibangun sebagai tempat pemujaan dan tempat olah spiritual," ujar pengamat spiritual Kanjeng Hartantoro.


Gambar rekaan "piramida" Gunung Padang yang dibuat Tim Bencana Katastropik Purba memperlihatkan bahwa bangunan itu memiliki bentuk yang kurang lebih sama dengan Candi Ceto atau bangunan peninggalan suku Maya. Bila ketiganya memiliki bentuk yang sama, apakah mungkin ketiganya memiliki hubungan?
Teka-teki ini tentu baru dapat terjawab bila eskavasi Gunung Padang selesai dilakukan.
[guh]


Dar Edi Yoga
874465

Tanah Air : Gergasi, Tsunami dari Samudra Hindia

0 komentar
[imagetag]

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Kompleks Makam Mahligai di Desa Dakka, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Keberadaan makam kuno Islam di kawasan tersebut menjadi salah satu jejak penyebaran agama Islam pertama di Nusantara.

Perjalanan menyusuri tepian Samudra Hindia, dituntun catatan tentang kejayaan masa lalu, hanya untuk menemui kenyataan: kota-kota yang pudar cahayanya. Barus dan Singkil telah tamat. Padang, Bengkulu, dan Aceh berada dalam bayangan tsunami.


Barus di tepian pantai barat Sumatera pernah menjadi kota yang sedemikian populer. Para pelaut Arab pada abad ke-7 hingga ke-11 menyebut pelabuhan itu Barus, Fansur, Pansur, atau Panchur.



Catatan lebih tua dari para pelaut China menyebut Barus sebagai P'o lu. Disebutkan, pendeta Buddha, I Tsing, dalam perjalanan ke India pada abad ke-7 singgah di tempat bernama P'o-lu-shih di dekat Sribhoga. Ini merupakan pelabuhan terakhir setelah Selat Malaka sebelum menyeberangi Samudra Hindia menuju India.


Catatan tertua mengenai Barus terdapat dalam kitab Geographia yang dibuat Claudius Ptolomeus pada abad ke-2, berdasarkan keterangan para pedagang India. Ptolomeus menyebut Barus sebagai Barousai.

Di pelabuhan yang berada ditepian Samudra Hindia itulah kapal-kapal dagang dari sejumlah negara mencari komoditas berharga, seperti kapur barus, emas, dan madu. Di Barus saat itu diperkirakan berkembang komunitas dagang multietnis.

Temuan prasasti berbahasa Tamil pada 1872 oleh pejabat Belanda, GJJ Deutz, menguatkan hal ini. Prasasti bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi ini, antara lain, menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di Lobu Tua, Barus, yang memiliki pasukan keamanan dan aturan perdagangan.


Penggalian tim gabungan dari Lembaga Kajian Perancis tentang Asia (Ecole française d'Extrême-Orient/EFEO) Perancis dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 1995-2000 menemukan keragaman artefak di Lobu Tua, mulai dari barang-barang buatan China, India, hingga Arab.


Namun, jejak Barus tiba-tiba menghilang sekitar abad ke-12. Pada abad itu, jejak peninggalan Barus yang sebelumnya tersebar luas tiba-tiba lenyap.


Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebutkan, kehancuran Barus karena serangan gergasi. Cerita lokal menyebutkan, gergasi adalah sosok raksasa yang datang dari lautan.


Setelah hilang tiba-tiba pada sekitar abad ke-12, Barus kembali muncul sekitar empat abad kemudian. Jane Drakard dalam An Indian Ocean Port: Sources for the Earlier History of Barus (1989) menyebutkan, nama Barus dan Fansur kembali disebutkan dalam berbagai catatan pada abad ke-16 hingga abad ke-17. Selain Barus, kota tetangganya, Singkil (dulu disebut Singkel), juga berkembang pesat. Kapal-kapal dagang Belanda, Inggris, dan Portugis berlomba ke Barus dalam perburuan rempah-rempah dan hasil hutan.





Jejak tsunami



Selama ini, hilangnya Barus secara tiba-tiba pada abad ke-12 masih menjadi misteri. Sosok gergasi yang disebutkan Claude Guillot juga mengundang banyak tafsir. Sonny Ch Wibisono, peneliti Puslit Arkenas, menyebutkan, banyak ahli menafsirkan sosok gergasi ini adalah bajak laut yang pada periode itu menguasai perairan Nusantara.


Namun, setelah gelombang tsunami menggulung pantai barat Aceh pada 26 Desember 2004, mulai muncul kesadaran baru bahwa bencana alam itu berperan penting mengubah jalannya sejarah di pantai barat. Petaka delapan tahun lalu itu membuka kesadaran tentang rapuhnya kota-kota yang berada di depan zona penunjaman lempeng ini.


Penelitian Kerry Sieh dari California Institute of Technology sejak 1994 menemukan, wilayah zona subduksi pantai barat Sumatera memiliki riwayat panjang gempa dan tsunami. Menurut dia, gempa dan tsunami pernah terjadi di wilayah ini pada 1381, 1608, 1797, dan yang terakhir tahun 1833.


Belakangan, pada 2008, Widjo Kongko, ahli tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan Katrin Monecke dari Kent State University serta lima peneliti lain menemukan jejak tsunami raksasa pernah terjadi tahun 1290-1400. Dari temuan deposit tsunami yang tersebar luas, mulai dari Meulaboh hingga Thailand, Widjo memperkirakan, tsunami pada tahun tersebut sekuat dengan yang melanda Aceh pada 2004.


Apakah Barus yang tiba-tiba menghilang pada abad ke-12 itu disebabkan tsunami yang depositnya ditemukan Widjo dan timnya?


"Bisa jadi memang tsunami pernah melanda Barus," kata Wibisono. Apalagi, dia menemukan, ada perpindahan masyarakat Barus pada masa lalu ke arah bukit. Temuan yang berusia lebih muda, sekitar abad ke-14, kebanyakan ada di sekitar Bukit Hasang.


Jejak tsunami ini pula yang kami temukan saat melihat lokasi penemuan peninggalan arkeologi di Lobu Tua. Hamparan pasir laut memenuhi kebun kopi dan kelapa, sejarak 2 kilometer dari laut. Kawasan ini pernah digali oleh arkeolog dari EFEO Perancis dan Puslit Arkenas.





Jauh dari pantai



Sebelum kedatangan kolonial Barat, permukiman pribumi di pantai barat Sumatera kebanyakan menjauh dari laut. Misalnya, Kota Padang di Sumatera Barat. "Dulu, kota-kota di pantai barat Sumatera ada di hulu-hulu sungai, tidak di tepi pantai," kata arsitek dan ahli tata kota dari Universitas Bung Hatta Padang, Eko Alvares.


Dia mencontohkan, Kota Padang dalam peta Belanda yang dibuat tahun 1781 menunjukkan, lokasi permukiman pribumi berada di sisi selatan Batang Arau di kaki Gunung Padang (Apenberg). Permukiman itu berjarak 1-2 kilometer menjauh dari pantai. Baru setelah kedatangan Belanda, lambat laun permukiman mendekati pantai.


Dalam pengantar buku Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology (1995), sejarawan Australian National University, Anthony Reid juga menyebutkan bahwa jantung peradaban Pulau Sumatera sebenarnya ada di pedalaman di sepanjang Bukit Barisan. Masyarakat pribumi Sumatera hanya mendekati pantai untuk berdagang.


Berbagai keping informasi ini semakin menguatkan tentang jejak tsunami yang barangkali berperan besar dalam evolusi bandar-bandar besar di pantai barat Sumatera pada masa lalu.


Bayangan tsunami pula yang saat ini menghantui Kota Padang dan Bengkulu, dua bandar terbesar di pantai barat Sumatera. Belajar dari sejarah, masa depan dua kota ini tergantung dari kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman gergasi atau raksasa dari laut.

(Prasetyo Eko P/Ingki Rinaldi)

874465

Hubungan Bencana Tsunami dengan Legenda Nyi Roro Kidul

0 komentar
[imagetag]

Peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) DR Eko Yulianto mengaku penasaran pada cerita Nyi Roro Kidul, legenda yang menurut dia juga pernah dibahas dalam kongres paranormal di Paris pada 1980an.

Dalam pertemuan di Eropa itu, para paranormal umumnya tertarik pada fakta bahwa legenda itu berkembang di kalangan masyarakat sepanjang selatan Indonesia, bukan hanya pantai selatan Jawa. Suatu kawasan yang sangat panjang. Itu pula yang menjadikan peneliti "paleotsunami" (tsunami purba) itu penasaran pada legenda tersebut.




[imagetag]


Menurut Eko, kawasan tempat mukim masyarakat yang mewarisi legenda Nyi Roro Kidul itu, yang dikenal sebagai kawasan pantai selatan, berhadapan dengan Samudera Indonesia, yaitu daerah zona subduksi lempeng bumi.


Subduksi ialah proses menghujamnya lempeng Benua yang bermassa lebih besar ke lempeng benua yang ada di bawahnya. Proses subduksi yang berlangsung terus-menerus itu yang menciptakan negeri kepulauan Indonesia beserta kesuburannya. Tapi, proses itu pula yang memberikan berbagai bencana, letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.


Dalam kaitan itu, Eko memperlihatkan lukisan Nyi Roro Kidul yang merekam legenda tersebut. Di sana digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta kuda dalam balutan ombak besar yang bergulung-gulung. "Jangan-jangan legenda itu sebenarnya pesan bahwa pernah ada tsunami di sana?" katanya.


Itu dikuatkan dengan legenda ratu pantai selatan tersebut yang digambarkan sering meminta tumbal dengan mengirimkan ombak besar jauh ke daratan. Kemudian, sebagian korbannya dikirim kembali ke darat sebagai pesan dari Nyi Roro Kidul. Persis kejadian tsunami.


Bagi Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Herry Harjono, mengaitkan legenda Nyi Roro Kidul dengan sejarah tsunami merupakan ide "aneh" yang berpotensi untuk mengungkap sejarah kejadian tsunami. Dia mengatakan, bantuan ilmuwan sosial untuk mengungkap asal-muasal legenda itu juga diyakini bisa membantu penelitian sejarah kejadian tsunami.


"Pikiran yang sekarang berkembang ialah, boleh jadi pernah ada kejadian besar yang sangat membekas masyarakat jaman dahulu. Kejadian itu terekam dalam legenda Nyi Roro Kidul," katanya dalam sebuah workshop paleotsunami, di Bandung. Persoalan yang ingin diungkap dalam paleotsunami, antara lain sejarah terjadinya tsunami dan berapa besarannya. Untuk itu, menurut Herry, ada pertanyaan yang ingin diungkap, "Kapan legenda itu mulai berkembang?"


Kisah seperti itu, misalnya, akan memperkuat hasil penelitian geologi yang mencari jejak tsunami purba. Misalnya mengenai bukti gempa dan endapan tsunami yang terjadi pada 400 tahun lalu di Cilacap dan Pangandaran yang diyakini jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada 2006.



Dalam sebuah poster yang dipamerkan di workshop disebutkan, empat kandidat endapan tsunami ditemukan di tebing sungai Cimbulan Pangandaran. Salah satunya berupa lapisan pasir tebal hingga 20 cm yang diendapkan di atas lumpur mangrove dan ditutupi endapan banjir.


Pasir itu mengandung cangkang "fora minifera" yang biasanya hidup di laut lepas. Analisis pentarikhan umur terhadap dua sampel yang diambil dari dua tempat berbeda menunjukkan lapisan pasir tsunami itu diendapkan 400 tahun lalu.


"Mungkinkah kejadian tsunami ini terkait dengan asal mula legenda Nyi Roro Kidul?" demikian pertanyaan dalam buku berjudul "Selamat dari Bencana Tsunami" yang berkisah tentang orang-orang yang sintas dari tsunami Aceh dan Pangandaran. Buku itu juga membahas sejumlah cerita tradisional yang diyakini terkait dengan peristiwa tsunami.


Bagi Herry, dukung-mendukung ilmuwan sosial dan peneliti geologi itu suatu saat akan memberikan hasil yang bisa memberikan data untuk menjawab pertanyaan "seberapa sering tsunami terjadi di pantai selatan?"


Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan banyak konsekwensi, setidaknya bisa mengubah pandangan hidup masyarakat di kawasan itu bahwa mereka hidup dalam daerah yang rawan tsunami?


Kalau itu tercipta, maka masyarakat akan mudah diajak untuk hidup akrab dengan tsunami, mudah mengajak mereka untuk selalu bersiaga menghadapi bencana, hingga mudah untuk mengajari mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan diri dengan benar ketika bencana itu akhirnya tiba.


Pengetahuan lokal



Bagi Eko, memperlakukan legenda sebagai pesan dari nenek moyang mengenai tsunami juga mengangkat kembali harkat legenda itu dari berbagai bungkus yang selama ini menutupinya.


Soalnya, kata dia, banyak cerita turun-temurun di sejumlah daerah, yang jika dicermati, bisa dicocokkan dengan kejadian tsunami. Dari perjalanannya ke sejumlah daerah yang pernah dilanda tsunami, dia mendapati cerita yang sebenarnya merupakan pengetahuan lokal untuk menyelamatkan diri dari bencana terjangan gelombang besar.


Dia menemukan itu mulai dari Majene, Lombok, Mentawai, dan Simeulue, walaupun yang masih mengingat pengetahuan tradisional itu sebagai kiat untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami itu hanya di Simeuleu. Pengetahuan itu disebut oleh masyarakat setempat sebagai "smong".


Bagi peneliti tsunami, Simeulue, pulau di Barat daya Aceh, merupakan laboratorium sempurna mengenai tsunami. Di sana, peneliti mendapati banyak endapan tsunami, catatan gempanya lengkap, dan ada pesan nenek moyang tentang tsunami yang terus dipatuhi masyarakatnya.


Dalam buku "Selamat dari Bencana Tsunami" disebutkan bahwa Pulau Simeulue berada paling dekat dengan pusat gempa bumi 26 Desember 2004. Namun hanya tujuh orang yang meninggal akibat sapuan gelombang tsunami. Itu berkat "smong".


"Smong" memuat pesan sederhana, namun masih dipatuhi warga Simeulue. Pesan itu berbunyi: "Jika terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut, segeralah lari ke gunung karena air laut akan naik".


Pengetahuan tradisional itu muncul setelah tsunami 1907. Disebutkan, seringnya tsunami sebelum 1907 di pulau itu memiliki Andil bagi bersemainya pengetahuan tersebut. Catatan sejarah dan penelitian geologi menunjukkan pulau itu terlanda tsunami pada 1797, 1861, dan 1907.



Menurut dia, pengetahuan serupa juga dimiliki masyarakat Mentawai, Sumetera Utara. Banyak orang di pulau itu yang masih hafal pengetahuan yang diturunkan dalam bentuk syair. Namun, syair itu umumnya tidak lagi dipahami sebagai warisan untuk menghadapi tsunami. Itu karena kata "teteu", judul syair tersebut, diartikan sebagai "kakek", walau bisa juga diartikan sebagai "gempa bumi".


Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, syair itu berbunyi: Teteu, sang tupai bernyanyi/Teteu, suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit/Teteu, ada tanah longsor dan kehancuran/Teteu dari ruh kerang laut sedang marah/karena pohon baiko telah ditebang/Burung kuliak bernyanyi/Ayam-ayam berlarian/Karena di sana teteu telah datang/Orang-orang berlarian.


Di sana, kata "teteu" lebih diartikan sebagai "kakek", sehingga maknanya jauh dari bencana. Sedangkan, jika "teteu" diganti dengan "gempa bumi", maknanya akan lebih kuat.


Terbungkusnya pesan inti yang terkandung dalam pengetahuan lokal di Mentawai itu disebut sebagai kecenderungan yang ada di banyak daerah. Salah satu faktornya, tidak ada catatan yang bisa diwariskan oleh generasi yang lahir jauh hari setelah tsunami terjadi.


Apalagi, tsunami raksasa umumnya terjadi ratusan tahun sekali, sehingga cerita turun-temurun yang diwariskan berubah menjadi legenda yang penafsirannya bisa berbeda dari maksud semula. Ketika tsunami raksasa datang suatu kali, tidak ada lagi orang yang pernah mengalaminya, sehingga syair turun-temurun itu diturunkan sekadar warisan.


Menurut Eko, mengaitkan pengetahuan lokal dengan penelitian tsunami purba merupakan kesengajaan yang dilakukannya. Soalnya, selama ini catatan sejarah yang dimiliki Indonesia sangat pendek, dan tidak ada catatan yang menyebut gelombang raksasa yang terjadi 400 tahun lalu, misalnya. Yang banyak ditemukan justru cerita turun-temurun yang bisa ditafsirkan sebagai pesan tentang tsunami.


Dengan mengumpulkan dan mempelajari pengetahuan tradisional, diharapkan membantu analisis kejadian tsunami di masa lalu. Mengetahui tsunami masa lalu, katanya, akan membantu masyarakat sekitar untuk bereaksi secara tepat ketika menghadapi bencana serupa pada masa datang.


Eko mengatakan, penelitian tsunami di Meulaboh dan Thailand selatan menghasilkan temuan yang mengejutkan. Temuan yang dipublikasikan secara bersamaan dalam terbitan jurnal ilmiah internasional "Nature" edisi Oktober itu menunjukkan bahwa tsunami raksasa serupa dengan yang terjadi pada 2004 pernah terjadi di Aceh beberapa ratus tahun yang lalu.



Seandainya temuan itu sudah terungkap sebelum tahun 2004, katanya, maka usaha untuk menekan jumlah korban jiwa dan kerugian mungkin dapat dilakukan.


Untuk menekan kerugian seperti itu pula, menurut Eko, upaya penelitian paleotsunami harus ditingkatkan kapasitasnya. Upaya itu tidak lain untuk mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu, termasuk dari penggalian daerah tsunami dan pengetahuan tradisional yang melingkupinya,


Menurut dia, selama ini penelitian serupa tidak sebanding dengan jumlah tsunami yang pernah terjadi di negeri ini. Hal itu bisa dilihat dari jumlah peneliti yang terjun dalam penelitian tsunami yang masih sedikit.Maka, selain menggali tanah di daerah-daerah yang pernah dilanda tsunami untuk mencari bukti tsunami purba, Eko pun rajin menggali cerita lokal, yang mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar yang senang masuk ke daratan itu.
874465

Simbol-simbol Aneh di Gunung Padang Mulai Diteliti

0 komentar
[imagetag]

ILUSTRASI

RMOL. Penelitian situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, dipublikasikan pertama kali dalam sebuah artikel di Rapporten van de Oudheidkundige Dienst, buletin yang diterbitkan dinas purbakala pemerintah kolonial Belanda tahun 1914 silam.

Ahli-ahli yang terlibat pada penelitian Gunung Padang di masa itu masih fokus pada bebatuan dari jaman prasejarah yang tersebar di permukaan Gunung Padang seluas 900 meter persegi.

Baru beberapa waktu belakangan inilah para peneliti Indonesia mulai melakukan penelitian yang lebih mendalam. Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) menemukan citra bangunan yang tertimbun di bawah Gunung Padang. Diduga kuat bangunan yang berbentuk punden berundak dan piramidal itu memiliki kaitan dengan potensi kebencanaan mengingat lokasi Gunung Padang tak jauh dari patahan aktif Cimandiri.

Ada satu hal lagi yang selama ini "luput" dari pengamatan. Yaitu simbol-simbol aneh yang ada di sejumlah bebatuan yang tersebar itu, umumnya di teras satu. Di teras satu itu tidak sedikit batu yang memiliki simbol atau gambar-gambar yang tampak seperti huruf. Ada juga yang bercorak binatang atau menyerupai senjata tradisional kujang.
Keberadaan simbol-simbol aneh ini disampaikan ahli filologi dari Fakultas Sastra Unpad, DR Undang Darsa yang dilibatkan SKP BSB untuk ikut meneliti Gunung Padang. dalam pertemuan yang digelar kemarin (Selasa, 23/5) di Kantor SKP BSB di seberang Istana Negara, di Jalan Veteran, Jakarta.

"Sejak kita menapaki anak tangga menuju teras satu dari pelataran pintu masuk kawasan situs purba itu, beberapa batu yang menyusun anak tangga banyak yang memiliki simbol-simbol seperti halnya huruf atau binatang yang diyakini memiliki makna tertentu," ujar Kordinator Tim Bencana Katastropik Purba Erick Ridzki kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu pagi (24/5).

Menurut Erick, arti simbol-simbol aneh itu akan diteliti lebih mendalam setelah tim arkeolog selesai menginventarisir semua balok batuan yang berterakan simbol-simbol aneh itu.

Teguh Santosa [guh]
874465

Ada Peradaban Kuno di Gunung Padang Cilacap?

0 komentar
Diduga penyangga itu mirip struktur penyangga bangunan di situs Machu Picchu di Peru.


[imagetag]
Arkeolog sedang meneliti situs Gunung Padang Cianjur (VIVAnews/ Muhamad Solihin

Tim geologi dari Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto akan berjalan kaki menembus hutan dan belukar, melewati sungai, menuju ke lokasi Gunung Padang pada Kamis 31 Mei 2012, mulai pukul 05.00 WIB. Mereka hendak meneliti struktur batu aneh di gunung yang masuk wilayah Desa Salebu, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. Perlu empat jam menuju ke sana dari desa terdekat.


Salah satu anggota tim, geolog Muhammad Aziz mengatakan, tim akan mencari tahu apakah tumpukan batu setinggi 30 meter yang bentuknya mengecil ke atas mirip piramida, terbentuk secara alami atau hasil campur tangan manusia. "Dari hasil pengamatan sementara di peta geologi, di daerah itu memang ada potensi batuan jenis tersebut," kata dia kepadaVIVAnews.com, Rabu 30 Mei 2012.



Namun, dia menambahkan, jika ditemukan semacam pahatan, bisa jadi itu adalah sebuah karya manusia. "Besok akan kami pastikan di lokasi," kata dia. Tim itu setidaknya akan menjawab teka teki dugaan adanya peradaban kuno yang tertimbun di dalam Gunung Padang Cilacap itu.


Sejak lama masyarakat mengetahui ada tumpukan batu raksasa di lokasi terpencil di kawasan Perhutani itu. Mereka bahkan menganggapnya tempat keramat. Sepengetahuan warga, itu adalah bahan bangunan keraton timur Padjajaran yang tak jadi dibangun.


Keberadaan Gunung Padang Cilacap baru terkuak secara luas ke publik pada tahun 2008. Kabar itu sampai ke telinga para petinggi Kepala Balai Pelestari Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah yang saat itu langsung mengirim dua petugasnya ke Majenang.


Pelaksana Tugas BP3 Jawa Tengah, Zainul Azah, mengatakan dari pengamatan empat tahun lalu, pihaknya belum menyimpulkan apakah situs ini adalah hasil kreativitas manusia zaman dulu.


Setidaknya ada dua analisis yang dipakai untuk melihat situs tersebut. Pertama, secara geologi. Bisa jadi tekstur batuan tersusun rapi adalah peristiwa alami. "Kejadian seperti ini biasanya muncul karena sebuah proses intrusi, sehingga terjadi sesar, dan menyebabkan magma menerobos celah celah," kata dia.


Namun, dari analisis secara arkeologi, kondisi kuncian batu yang terbentuk rapi mengindikasikan situs Gunung Padang Cilacap itu sebuah hasil karya manusia zaman dulu. Zainul menegaskan, perlu kehati-hatian dan analisis lengkap untuk menentukan status batuan itu. "Untuk memastikan ini, perlu ada sebuah penelitian mendalam mengenai situs Gunung Padang Majenang sebelum melakukan langkah lanjutan," kata dia.


Jika dari hasil penelitian para ahli menyatakan bahwa situs Gunung Padang Majenang merupakan hasil karya manusia, BP3 menyatakan baru akan memasukkan program konservasi situs Gunung Padang Majenang pada tahun 2013. Hingga kini, situs Gunung Padang Cilacap belum masuk dalam daftar peninggalan purbakala Jawa Tengah.



Beda nasib dengan Cianjur


Dari penampakannya, ada benang merah menghubungkan Gunung Padang Cilacap dan Cianjur, yang letaknya sama-sama di selatan Jawa yang banyak ditemukan temuan prasejarah Neolitik.


Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar mengatakan, kedua situs itu memiliki struktur dan konstruksi bangunan hampir sama. Ia juga menduga, tumpukan batu di Gunung Padang Cilacap tak terbentuk secara alamiah. "Batu andesit piroksen itu memang bentuknyacolumnar joint, yang terbentuk di dalam gunung berapi. Tapi itu kemudian dimanfaatkan manusia, terlihat ada bagian yang dipatahkan dan dihaluskan," kata Ali Akbar, saat ditemuiVIVAnews di Kampus UI.


Batu kuncian mirip permainan tetris di Gunung Padang menjadi faktor yang memperkuat dugaan itu.


Tak seperti Gunung Padang Cilacap yang masih tanda tanya besar, Gunung Padang Cianjur, Jawa Barat sudah diteliti oleh tim ilmuwan. Mulai 15 Mei hingga 30 Juni mendatang, eskavasi sedang dilakukan di situs megalitik itu. Dipimpin arkeolog dari UI.



Penelitian di situs ini kembali mengemuka setelah Tim Peneliti Katastropik Purba yang difasilitasi Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, melakukan penelitian yang disertai pengeboran. Hasilnya, berdasarkan carbon dating, situs dengan konstruksi buatan manusia ini diduga berasal dari 10.000 SM.


Meski begitu, Ali Akbar menegaskan, penelitian yang dilakukan pihaknya adalah penelitian dengan metode arkeologi, yang berbeda. Mereka juga tidak ingin bercampur dengan metode yang sebelumnya dilakukan ahli geologi.


Dia menjelaskan, berdasarkan survei di permukaan di Gunung Padang, sebelum dilakukan ekskavasi, ditemukan ada struktur baru di sisi timur Gunung Padang.


Ali Akbar menduga struktur batu yang ditemukan teratur itu merupakan penyangga bangunan utama punden berundak. Dugaannya, bentuk penyangga itu sama seperti struktur penyangga bangunan di situs Machu Picchu di Peru. "Ada undakan batu yang disusun, kemudian ada permukaan tanah. Sepertinya untuk menopang agar bangunan tidak longgar," ucap Ali Akbar.


Ali juga menduga struktur yang sama ada di sisi barat. Namun, struktur di sisi barat sudah sulit untuk ditemukan, karena banyak yang kini berubah menjadi pemukiman penduduk.


Dengan temuan struktur baru di sisi timur ini, Ali Akbar menduga luas bangunan Gunung Padang terbilang istimewa. "Bisa sampai 25 hektar kalau sampai bawah bukit. Tapi mungkin juga bisa hingga 75 hektar kalau sampai lembah," tuturnya.



Selain menemukan struktur, dari ekskavasi yang dilakukan di teras 4, tim arkeologi menemukan pecahan gerabah. Temuan ini dianggap penting untuk mengungkap fungsi punden berundak Gunung Padang. "Selama ini dibilang fungsinya untuk pemujaan. Namun tentu harus disertai temuan pendukung," ujarnya.


Menurut Ali, serpihan yang ditemukan itu juga memperlihatkan jejak buatan, berupa bekas tekanan jari. "Gerabah ini dibuat dengan menggunakan pinching, masih dengan tekanan jari dan belum menggunakan roda putar," tuturnya.


Meski begitu, Ali Akbar tidak mau gegabah untuk menyebutkan fungsi gerabah, dan kaitannya dengan konteks temuan di teras 4 kompleks Gunung Padang. "Fungsinya masih diselidiki," ucapnya.



Sementara, soal usia bangunan, Ali Akbar mengaku belum sepakat dengan hasil penanggalan carbon dating yang dilakukan Tim Peneliti Katastropik Purba, yang menyebut situs Gunung Padang berasal dari 10.000 SM. "Dugaan arkeolog masih dari 2.500 SM," kata dia. Untuk mendukung ini, tim arkeologi pun akan melakukan penelitian carbon datingsecara terpisah.(np)

Elin Yunita Kristanti, Bayu Galih, Robbi (Cilacap-Banyumas)

874465

Sy'iah, Holocaust dan Clash of Civilization

0 komentar
[imagetag]

MESKI KEKEJAMAN pemerintahan Syi'ah di Iran dan di Suriah sudah sedemikian nyata, para misionaris Syi'ah di Indonesia masih saja berusaha meyakinkan umat Islam Indonesia, bahwa Syi'ah itu agama damai, Syi'ah itu salah satu madzhab dalam Islam yang diakui dunia internasional, bahwa Syi'ah itu Islam juga.


Terhadap kekejaman Syi'ah di Suriah, kalangan Syi'ah cenderung membela diri, bahwa yang dibunuhi itu adalah rakyat yang memberontak kepada pemerintah, bahwa Bashar Assad itu bukan penganut Syi'ah, dan sebagainya. Selain itu, para misionaris Syi'ah juga cenderung mencari "pihak ketiga" yang bisa dijadikan musuh bersama yaitu paham Wahabi. Menurut para misionaris Syi'ah, paham Wahabi bahkan memposisikan Syi'ah dan sunni (ahlus sunnah) sama-sama sesat. Mereka juga mengatakan, sebagaimana pernah dikatakan Zen Al-Hady narasumber Radio Silaturahim (Rasil), Kerajaan Saudi yang berpaham Wahabi itu bahkan memposisikan ormas NU sebagai berpaham sesat.


Menurut misionaris Syi'ah, musuh umat Islam bukanlah Syi'ah karena Syi'ah bagian dari Islam. Tetapi, selain paham Wahabi musuh Islam adalah: mereka yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw; penulis buku ayat-ayat setan dan yang melindungi penerbitan buku itu; mereka yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar; mereka yang menguasai Masjidil Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya. Begitulah propaganda misionaris Syi'ah, yang antara lain bisa ditemukan pada sebuah surat terbuka berjudul "Surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada ulama Wahabi" yang bisa ditemui di situs penganut Syi'ah Alwi Husein (alwihusein.multiply.com) Zen Al-Hady salah satu narasumber Radio Silaturahim (Rasil) juga kerap mengutip materi propaganda khas Syi'ah tadi dalam berbagai kesempatan. Tapi alhamdulillah umat Islam tidak begitu mudah percaya dengan propaganda tersebut.



Musuh-musuh Islam seperti disebutkan oleh Ayatullah Makarim Syirazi melalui surat terbukanya di atas, memang benar. Namun Syi'ah pun bagian dari musuh Islam. Memerangi Syi'ah bukanlah memerangi sesama muslim, karena Syi'ah apapun sektenya, mereka kini sudah memerangi Islam. Bahkan Syi'ah lebih dekat diposisikan dengan pihak harby. Akhir-akhir ini para misionaris Syi'ah menyebarluaskan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi, boleh jadi karena mereka panik dan tidak punya cara lain untuk menutupi kekejaman rezim Syi'ah di Suriah. Pada surat terbuka itu antara lain dituliskan, seolah-olah pernah ada pertemuan aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam, yang berlangsung pada tanggal 16 Dzul Qa'dah 1427 H.


Konon, sejumlah 38 ulama dan dosen Wahabi dari Universitas Ummul Qura dan Universitas Malik Su'ud, serta ulama dan dosen dari sebagian kecil wilayah Arab Saudi lainnya, menandatangani sebuah deklarasi yang berisi fatwa untuk membunuhi orang-orang Syi'ah di Irak, bahkan orang-orang Syi'ah di seluruh dunia. Alasannya, kata Ayatullah Makarim Syirazi, para ulama dan dosen Wahabi itu menuduh bahwa orang-orang Syi'ah itu rafidhi safawi yang merupakan sekutu Amerika dan kerap membunuhi orang Islam. Benarkah adanya deklarasi berisi fatwa membunuhi orang-orang Syi'ah itu adalah sesuatu yang bisa dipertangung jawabkan? Yang pasti saat ini justru umat Islam-lah yang jadi korban pembantaian rezim Syi'ah di Suriah. Juga, di Iran. Kalau toh deklarasi itu memang ada, tentu saja tidak lantas menganulir bahwa Syi'ah itu secara akidah memang bertentangan dengan Islam.


Jangan membodohi umat Islam. Dalam salah satu alineanya, surat terbuka yang konon berasal dari Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan: "Apakah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya." Kecaman Ayatullah Makarim Syirazi di atas, sepantasnya ditujukan kepada rezim Syi'ah di Suriah, dan sama sekali tidak cocok ditujukan kepada umat Islam Indonesia, apalagi umat Islam di Suriah yang dizalimi dan dianiayaya rezim Syi'ah nushairiyah di negerinya sendiri. Sesuatu yang tidak cocok itu ternyata oleh para misionaris Syi'ah dijadikan materi propaganda, setidaknya untuk mengalihkan perhatian umat Islam atas kekejaman rezim Syi'ah di Suriah yang berlangsung cukup lama.


Mungkin mereka bermaksud memberikan kesan bahwa orang-orang Syi'ah itu juga dizalimi oleh paham Wahabi sebagaimana ditulis dalam surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi di atas. Gaya seperti itu persis gaya Yahudi dengan menciptakan public opinion yang terkenal dengan sebutan holocaust (pembasmian). Melalui public opinion itu bangsa Yahudi ingin memposisikan dirinya sebagai bangsa yang teraniaya akibat praktik genosida (pemusnahan suatu bangsa) yang dilakukan Nazi Jerman dengan tokoh utamanya Hitler. Genosida terhadap bangsa Yahudi yang berlangsung antara tahun 1933-1945 itu, konon menyebabkan sejumlah 6 juta orang Yahudi menjadi korban pembunuhan rezim Hitler. Belakangan, holocaust disangkal oleh sejumlah ilmuwan seperti Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dan sebagainya. Akibatnya, mereka harus mendekam di penjara.


Bahkan, korban kekejaman Hitler yang selama ini dipatok pada angka 6 juta, sebenarnya jauh lebih kecil, yaitu di bawah angka satu juta jiwa. Angka itu (di bawah satu juta jiwa) bagi kita umat Islam yang menjunjung tinggi syari'at Allah dan kemanusiaan, tetap masih sangat banyak. Namun yang jauh lebih banyak lagi adalah kebohongan Yahudi yang membentuk opini bahwa bangsa Yahudi korban kekejaman Hitler berjumlah 6 juta jiwa. Sehingga, dengan alasan itu mereka merasa 'berhak' membunuhi bangsa Palestina, dan orang-orang Islam pada umumnya di seluruh permukaan bumi. Padahal, ketika Yahudi dikejar-kejar rezim Hitler, mereka justru berlindung di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.


Selain holocaust, gaya berkelit ala Yahudi juga bisa ditemukan pada wacana benturan antar peradaban yang dipopulerkan oleh Samuel Phillips Huntington (kelahiran New York City, 18 April 1927) setidaknya sejak 1998, satu dekade sebelum ia akhirnya meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Wacana itu ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antar peradaban dan Masa Depan Politik Dunia). Intinya, setelah komunisme yang menjadi musuh utama Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, tumbang, maka musuh berikutnya adalah peradaban Islam. Menurut Huntington, di antara berbagai peradaban besar yang tetap tegak hingga kini adalah peradaban Islam. Sebagai peradaban yang terus tegak, Islam dinilai menjadi peradaban yang paling berpotensi mengancam peradaban Barat.


Wacana benturan antar peradaban yang diusung Huntington itu bisa merupakan fakta sahih, atau analisa semata, atau justru merupakan sebuah skenario politik Barat (Amerika dan sekutunya), untuk mempunyai landasan bertindak memerangi Islam. Sebagaimana sudah diketahui umum, setiap kebijakan politik Amerika Serikat pastilah dilahirkan oleh kepentingan politik Yahudi 'perantauan' yang berada di Amerika Serikat dan di belahan negara Barat lainnya. Apalagi, kemudian wacana benturan antar peradaban Huntington itu tak berapa lama mendapat pembenaran melalui kasus WTC 911 yang terjadi pada 11 September 2001, yang konon dilakukan oleh organisasi teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, yang merupakan salah satu anak keluarga bin Laden yang selama ini menjadi mitra bisnis Amerika Serikat. Osama dan Al-Qaeda kemudian menjadi icon peradaban Islam yang menggoyang peradaban Barat. Al-Qaeda regional dan lokal pun muncul, termasuk di Indonesia.


Sejumlah tokoh atau oknum JI (Jama'ah Islamiyah) yang keberadaannya disangkal oleh Abu Bakar Ba'asyir, pun turut melaksanakan 'serangan' terhadap peradaban Barat, antara lain berupa Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW Marriott dan sebagainya. Maka, sempurnalah alasan yang diperlukan untuk menjalakankan skenario menggempur peradaban Islam melalui perang melawan terorisme. Kemudian dalam rangka memerangi peradaban Islam yang dikesankan keras ala Al-Qaeda dan JI, muncullah JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sejumlah tokoh anak wayang seperti Ulil, Musdah, Maarif, dan sebagainya. Belakangan muncul pula program deradikalisasi yang menguntungkan Said Agil Siradj. Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh kalangan Syi'ah untuk dijadikan momentum menjual paham sesat Syi'ah laknatullah. Misionaris Syi'ah seperti Zen Al-Hadi narasumber Radio Silaturahim (Rasil) dan Jalaluddin Rakhmat dari IJABI, selalu menjadikan tindakan oknum JI sebagai contoh paham Wahabi yang sebaiknya dijadikan musuh bersama umat Islam dan Syi'ah. Daripada berpaham Wahabi yang keras mendingan Syi'ah. Daripada atheis mendingan Syi'ah. Pernyataan itu seolah-olah benar padahal keliru.


Selain menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi sebagai materi propaganda membela Syi'ah, para misionaris paham sesat Syi'ah laknatullah ini juga menjadikan sebuah foto editan untuk mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam atas kekejaman rezim Syi'ah di Suriah. Pada foto tersebut terlihat George Bush (Presiden Amerika Serikat sebelum Obama) sedang tempel pipi dengan Raja Arab Saudi. Selama ini George Bush dituding melakukan pembantaian terhadap satu juta muslim di Iraq, dan Raja Abdullah dari Saudi dituding menjadi sekutu George Bush dalam upaya pembunuhan itu. Peristiwa itu kalau benar terjadi, tidak akan pernah menganulir kesesatan Syi'ah yang secara akidah bertentangan dengan umat Islam, tidak akan mengalihkan perhatian umat Islam terhadap kekejaman rezim Syi'ah terhadap umat Islam di Suriah dan di Iran.



Cara-cara di atas, yaitu menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi dan foto editan sebagai materi kampanye Syi'ah mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam terhadap kekejaman rezim Syi'ah di Suriah, adalah perbuatan dungu bin tolol. Karena kesesatan Syi'ah secara akidah, tidak bisa dianulir oleh praktik politik Saudi Arabia, dan sebagainya. Saudi mau runtang-runtung dengan Amerika Serikat dan sebagainya, itu urusan politik mereka. Dalam urusan akidah, umat Islam tetap konsisten menyatakan bahwa Syi'ah tetap sesat dan dengan kejamnya sudah membunuhi jutaan ummat Islam dari dulu hingga sekarang. Padahal masalah membunuhi orang Muslim itu adalah perkara sangat besar, hingga menjadi urutan pertama diputuskannya di hari qiyamat sebelum perkara-perkara lainnya.


Sadarilah wahai para manusia yang mengaku Muslim bahkan tokoh namun kini bersuara membela Syiah. Tidak takutkah kalian kelak di akherat akan diseret pula sebagai orang yang harus mempertanggung jawabkan sikapnya atas dukungan kepada golongan sesat Syiah yang telah membunuhi Ummat Islam?



عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ


Dari Abdullah bin Mas'ud RA, ia berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Hal yang pertama kali diputuskan (dihisab) diantara sesama manusia pada hari kiamat adalah masalah darah (pembunuhan)." (Mutafaqun 'alaih)



PESAN-PESAN HADITS




  • Besarnya perkara darah manusia, dan tidaklah masalah darah ini didahulukan dari perkara lainnya pada hari kiamat kecuali karena perkara ini lebih besar dan lebih penting dari bentuk-bentuk kezaliman lainnya. Ibnu Daqiq al-'Ied berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan besarnya masalah darah (pembunuhan), karena memulai sesuatu dilakukan terhadap perkara yang paling penting. Dan perkara darah ini memang pantas didahulukan dari perkara lainnya, karena besarnya suatu dosa tergantung kepada besarnya mafsadat (kerusakan) yang ditimbulkan atau besarnya maslahat yang dihilangkan. Dan membunuh seseorang menimbulkan kerusakan yang sangat besar, maka pantas kalau membunuh itu menempati dosa yang paling besar setelah kufur kepada Allah.


  • Penetapan adanya hari kiamat dan hisab (perhitungan amal) dan pemutusan perkara serta balasannya.

  • Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh penulis kitab-kitab sunan (Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah) dari Abu Hurairah ra dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Perkara yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya". Karena dalam hadits Ibnu Mas'ud di atas yang dimaksud adalah perkara yang berkaitan antara seorang hamba dengan sesamanya, sedangkan yang dimaksud dalam hadits Abu Hurairah adalah perkara yang berkaitan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan tidak diragukan lagi bahwa hak manusia yang paling besar adalah masalah darah, dan hak Allah yang paling besar dari seorang muslim adalah shalat.

  • Wajibnya berhati-hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak sesama makhluk, agar ia tidak celaka pada hari kiamat nanti, dan hak makhluk yang paling besar adalah masalah darah.

  • Wajib atas pengadilan ataupun mahkamah untuk memperhatikan masalah pembunuhan, dan menempatkan masalah ini sebagai prioritas pertama dari masalah-masalah lainnya.



(SUMBER: Taudhih al-Ahkam Min Bulugh al-Maram karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Bassam, Jld V, hal.170-171) www.alsofwah.or.id
Ilustrasi: aljazerah

nahimunkar
874465